Kamis, 06 Desember 2012

Analisis Sastra


Ironi Sosok Tamin dalam Novel
Toha Mohtar “Pulang”
Oleh Herlini Melianasari


Judul             : PULANG
Pengarang   : Toha Mohtar
A.  Unsur Ekstrinsik
Novel Pulang adalah salah satu karya Toha Mohtar yang tumbuh dan berkembang pada angkatan’50. Seorang Toha dikenal dengan sastrawan cerita anak, sejak kecil Toha sudah gemar menulis dan juga menaruh perhatian pada seni lukis. Pengarang yang di tahun 1971 bersama Julius R. Siyaranamual dan Asmara Nababan mendirikan majalah Kawanku telah melahirkan sejumlah novel, sekedar menyebutkan beberapa novel karyanya yaitu: Pulang (1958) yang mendapatkan Hadiah Sastra Indonesia BMKN 1957/1958, Daerah Tak Bertuan (1963) memperoleh Hadiah Sastra Yayasan Yamin tahun 1964, Kabut Rendah (1968), Bukan Karena Aku (1969), Jayamada (bersama Soekanto S.A., 1971) serta Antara Wilis dan Gunung Kelud (1989). Meskipun pendidikannya tidak terlalu tinggi  hanya SMA di kota Kediri (hingga kelas dua, 1947) dan pernah tercatat  sebagai murid di Artist People University di Madiun, tetapi Toha telah menorehkan karya-karya besar baik majalah untuk anak, cerita untuk anak, bahkan novel-novel karya Toha Mohtar sudah diangkat untuk difilmkan. Ia juga pernah menjadi redaktur di majalah Ria (1952-1953), guru menggambar Taman Siswa (1953-1957), dan pemimpin redaksi atau penanggungjawab majalah anak-anak Kawanku.
        Uniknya di lingkungan sekitar sosok Toha lebih dikenal sebagai ilustrator daripada seorang pengarang. Karena itu para redaktur yang menemuinya lebih sering meminta Toha membuat gambar ilustrasi untuk cerita-cerita yang akan dimuat daripada meminta tulisannya. Keistimewaan yang dimiliki Toha adalah: Ia dengan murninya bisa mengikuti dan membawa kita untuk mengikuti gerak-gerik, jalan pikiran orang yang dilukiskannya, perasaan orang yang paling halus dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang mengharu kalbunya dalam harapan dan cita-citanya. Kemurnian itu disebabkan karena Toha dapat menyatu dengan tokoh-tokohnya, mengerti keinginan dan hasrat mereka dalam suka dan dukanya. Ia adalah pengarang rakyat yang menyatu dengan rakyatnya dan mengukur mereka dengan ukurannya sendiri. Karena itu tak ada nada ejek dan cemooh terhadap rakyat sederhana yang dilukiskannya dan tidak pula Ia kasihan berlebih-lebihan.
Mengingat sastrawan Indonesia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan sosial-budaya yang beragam, sehingga faktor-faktor sosial-budaya merupakan “bahan” yang kemudian diolah sedemikian rupa bersama unsur-unsur lain guna mencapai nilai estetika dari karya bersangkutan. Pemahaman itu memberi kemungkinan inspirasi bagi usaha mengungkapkan apa yang menjadi bahan karya sastra tersebut. Dalam hal ini, novel Pulang merupakan ekspresi dari pengalaman Toha ketika mengembara di sepanjang kaki Wilis, Kelud dan Brantas di jaman revolusi. Pada masa itulah Toha mendapat kesempatan untuk berkenalan secara mendalam dengan penderitaan rakyat, maka dari latar belakang tersebut Toha Mohtar menciptakan novel Pulang dengan corak realisme, mementingkan isi, dan memperhatikan nilai estetis.
Berawali dari bekal pengalamannya ketika mengembara di jaman revolusi tersebut oleh Toha Mohtar dimanfaatkan untuk menciptakan karya novel yang berjudul Pulang. Sehingga terdapat nuansa semangat membangun bangsa Indonesia diberbagai bidang dalam novel tersebut. Di jaman inilah merupakan waktu bagi novel berjudul Pulang memulai jalan penciptaannya, dimulai dari sebuah cerpen yang dimuat dalam majalah, dilanjut dengan menjadikan novel yang berjudul Pulang yang sangat bagus sehingga mendapatkan penghargaan/Hadiah Sastra Indonesia BMKN 1957/1958, hingga akhirnya mulai mengembangkan sayap dengan menjadikan sebuah film dari alur cerita novel tersebut yang  disutradarai oleh Basuki Effendi dan disinetronkan disalah satu stasiun televisi yaitu TPI yang dibintangi oleh Turino Djunaidi, kemudian diterbitkan di Malaysia serta diterjemahkan ke berbagai bahasa asing di dunia.
B. Unsur Intrinsik
Suatu karya sastra pastinya tidak terlepas dari unsur-unsur yang mendukung baik di dalam maupun di luar yang membentuk sebuah karya sastra. Berdasarkan hal tersebut, unsur yang menjadi subyek adalah teks, namun tidak semua teks dapat disebut karya sastra. Definisi karya sastra berkaitan dengan waktu dan budaya karena karya sastra adalah sebuah hasil dari kebudayaan. Pada penjelasan yang sebelumnya sudah dipaparkan mengenai unsur ekstrinsik yang membangun novel Pulang, selanjutnya mengenai unsur instrinsik dari novel Pulang, akan dipaparkan sebagai berikut:
Pertama, tema adalah gagasan sentral, yakni sesuatu yang hendak diperjuangkan melalui sebuah karya sastra. Sehingga, berdasarkan hal tersebut tema dari novel Pulang karya Toha Mohtar adalah kecintaan untuk membangun terhadap tanah air tanpa pengkhianatan. Sebenarnya tema tidak sama dengan judul, hanya akan mewakili dari isi secara keseluruhan yang akan disampaikan oleh penulis pada para pembacanya.
Kedua, tokoh adalah orang-orang yang diceritakan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan atau menampilkan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Maka untuk novel Pulang tokoh yang pertama bernama Tamin sebagai tokoh utama ia memiliki karakter pembohong, penghianat karena menjadi Heiho untuk memerangi bangsa sendiri, tetapi dibalik semua itu ia penyayang dan patuh pada orang tuanya.
Ibu       : “Katakan, engkau tak akan pergi lagi, Tamin!”
Tamin : “Ya, aku tak hendak pergi lagi, akan selalu disini, mak!”  
             (halaman 13).
Percakapan di atas menunjukan bahwa Tamin patuh pada orang tuanya. Tokoh kedua yaitu Ibunda Tamin, sebagai sosok seorang ibu tidaklah terlepas dari rasa kasih sayang dan lemah lembut. Ia selalu sabar dalam menunggu kedatangan anaknya pulang, setia selalu pada keluarga. Seperti percakapan ketika ibunya berkata
Ibu       :“Katakan, engkau tak akan pergi lagi, Tamin!” (halaman 13)
            dengan mata yang sejuk itu menatap wajah anaknya
            dengan penuh sayang.
Melalui percakapan tersebut sudah dijelaskan bahwa Ibu Tamin memiliki sifat yang penyayang terhadap anaknya Tamin. Yang dibuktikan ketika Ibu Tamin menatap dengan mata yang sejuk dan penuh dengan saying tersebut. Tokoh yang ketiga, Bapak Tamin adalah seorang pemimpin keluarga yang bijaksana, baik hati, setia dan penyayang terhadap keluarga yang dapat dilihat dari percakapannya dengan Tamin:
Bapak : “akhirnya engkau kembali jua, Tamin. Tuhan  mengabulkan
              doaku siang dan malam. Tak ada yang lebih besar
              kuharapkan dalam hidup ini, kecuali kedatanganmu. “Apa  
              gerangan yang aku mimpikan semalam?” (halaman 9).
Percakapan di atas dapat menunjukkan bahwa watak Bapak Tamin yang penuh dengan sifat penyayang. Tokoh yang keempat yaitu Sumi adik perempuan dari Tamin memiliki sifat penyayang, sopan santun pada orang tua, dan baik hati. Tokoh yang kelima yaitu Mbok Min seorang dukun bayi yang baik hati, suka bercanda terlihat ketika ia berbincang dengan Tamin:
Mbok Min: “Engkau sudah kawin? Oh, jika belum perawan-
              perawan desa ini berpacu merebut engkau!”
              (halaman 20) kata Mbok Min, dan Tamin tertawa
              karenanya.
Tokoh keenam yaitu Pak Banji yang memiliki sifat periang, baik hati, agak keras, dan ramah terhadap siapapun. Dan tokoh yang ketujuh yaitu Isah memiliki sifat cantik, lemah lembut, sopan terhadap orang tua, suka menolong orang lain.
Ketiga, latar adalah segala penggambaran mengenai waktu, ruang atau tempat, situasi, dan suasana yang ada dalam karya sastra tersebut.  Latar dalam cerita Novel Pulang mengambil tempat-tempat tertentu untuk membentuk karakteristik dan lakon cerita ini seperti di ruang tamu, dapur, kebun, pasar  dan lain-lain. Sebagian besar di sepanjang kaki Wilis, Kelud dan Brantas.
Keempat, gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Gaya bahasa yang digunakan yaitu personifikasi dimana jenis majas yang meletakan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak, misalnya suara air bertambah keras memanggil-manggil, matahari telah menyembunyikan diri seluruhnya di balik gunung Wilis, tinggal cahayanya yang bertambah lemah menembus langit dan memberikan ciuman terakhir pada mendung yang berarak-arak di atas kepala, turunnya senja kala itu disambut oleh kesepian; burung-burung yang pulang sarang malas berkicau. Sebagian besar menggunakan idiom-idiom, sehingga kurang dapat dipahami dalam bahasa Indonesia sesuai EYD.
Kelima, sudut pandang adalah bagaimana cara si pengarang bercerita atau memposisikan diri di dalam suatu alur cerita karya sastra. Dalam novel ini posisi pengarang terlibat langsung atau ada dalam cerita, dan menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Maka dari itu, dapat dikatakan untuk sudut pandang yang digunakan pada novel berjudul Pulang ini adalah sudut pandang orang pertama. Keenam, alur adalah urutan kejadian atau peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya sastra. Alur cerita di dalam novel Pulang ini adalah alur campuran.  
Ketujuh, amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembacanya. Amanat yang terkandung dalam novel ini yaitu: 1. Kita harus berbakti kepada orang tua; 2. Lebih baik jujur walau kenyataan itu pahit daripada terbelenggu oleh perasaan hati dan pikiran yang merasa bersalah; 3. Jangan berbohong untuk menutupi sebuah pengkhianatan terhadap Bangsa sendiri; 4. Lebih baik hidup sederhana di kampung halaman daripada di negara lain penuh dengan kemewahan tetapi memerangi negara sendiri. Unsur-unsur pembangun karya sastra baik ekstrinsik maupun instrinsik sudah dijelaskan pada pembahasan yang sebelumnya. Selanjutnya, berikut ini adalah sinopsis dari novel Pulang.
C. Sinopsis
Ironi Sosok Tamin dalam Novel
Toha Mohtar “Pulang”
   Pulang mengisahkan seorang pemuda pribumi yang menjadi tentara Heiho, yang memerangi bangsanya sendiri. Nama pemuda itu Tamin. Tujuh tahun lamanya Tamin menjadi Heiho dan tinggal di Jepang. Kisah dimulai ketika si tokoh utama Tamin berkeinginan pulang kembali ke Indonesia. Tamin sangat rindu pada keluarga dan kampung halamannya. Selama ini, orang-orang di kampung halamannya menganggap Tamin sebagai pahlawan gerilya yang telah berjuang membela bangsa dan negaranya dari penjajah. Itulah sebabnya ketika Tamin datang, orang-orang sekampung mengelu-elukannya. Padahal kenyataannya Tamin adalah seorang pengkhianat bangsa. Tamin adalah seorang tentara penjajah yang melawan negaranya sendiri. Hal inilah yang menggelisahkan hati Tamin saat ia pulang. Bahkan orangtuanya sendiri tidak tahu bahwa ia adalah tentara Heiho.
   Melihat kenyataan ini, Tamin terpaksa berbohong ketika ia disuruh menceritakan pengalamannya bertempur selama tujuh tahun. Ia mengarang cerita bagaimana bergerilya di hutan-hutan di Jawa Barat dan bertempur melawan penjajahan Belanda. Betapa cerita bohong ini menggelisahkan dan menyiksa perasaan Tamin. Lebih-lebih ketika dirinya diminta untuk menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Karena tidak kuat mengingkari hati nuraninya, Tamin diam-diam pergi meninggalkan desanya. Ia pergi mengembara. Namun dalam pengembaraannya pun Tamin merasa tersiksa. Ia khawatir jika ada orang yang tahu dan membocorkan keadaan dirinya yang sebenarnya kepada orang-orang kampung halamannya. Suatu hari dalam pengembaraannya Tamin bertemu dengan Pak Banji, seorang tetangga kampung halamannya. Dari cerita pak Banji, Tamin baru tahu bahwa Ayahnya telah meninggal. Pak Banji juga mengabarkan bahwa orang-orang sekampungnya mengharapkan ia pulang. Mereka sangat ingin mendengarkan kisah perjuangan Tamin melawan penjajah.
    Mendengar cerita Pak Banji di satu sisi Tamin senang belum mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Namun di sisi lain, ia sangat sedih karena ayahnya telah meninggal dunia. Karena dua perasaan yang bercampur aduk itulah Tamin memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Ia bertekat untuk membangun kampung halamannya sebagai wujud penyesalan karena telah melawan bangsanya sendiri. Dalam hati kecil ia berkeyakinan bahwa sebenarnya dirinya tidak sepenuhnya bersalah ketika menjadi tentara Heiho. Waktu itu ia sangat terpengaruh dengan propaganda Jepang dan sekutunya. Dan tekatnya membangun kampungnya adalah manifestasi terhadap kecintaannya kepada kampung halaman tercintanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar