Senin, 17 Desember 2012

Psikologi Pendidikan

MAKALAH MEMAHAMI INDIVIDU
Oleh Herlini Melianasari

A.    Pengertian Individu
Manusia atau individu adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sejak ratusan tahun yang lalu, manusia telah menjadi obyek filsafat, baik obyek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun obyek material yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir atau homo sapies, makhluk yang berbuat atau homo faber, makhluk yang dapat dididik atau homo educandum dan seterusnya.
Dalam kamus Echols & Shadaly (1975), individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, dan oknum. Berdasarkan pengertian di atas dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Dalam pertumbuhan dan perkembanganya, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan pada awal perkembangan. Bagi seorang bayi mementingkan kebutuhan jasmaninya, ia belum peduli dengan apa saja yang terjadi di luar dirinya. Ia sudah senang bila kebutuhan fisiknya sudah terpenuhi. Dalam perkembangan selanjutnya maka ia akan mulai mengenal lingkungannya, membutuhkan alat komunikasi (bahasa), mambutuhkan teman, keamanan dan seterusnya. Semakin besar anak tersbut semakin banyak kebutuhan non fisik atau psikologis yang dibutuhkannya.
 B.     Karakteristik Individu
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang memperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis.
Natur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu. Sejak terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru, maka secara berkesinambungan dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang.

C.    Perbedaan Individu
Dari bahasa bermacam-macam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu pertama, semua menusia mempunyai unsur-unsur kesamaan di dalam pola perkembangannya dan kedua, di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia secara biologis dan sosial, tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif bukan kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.
Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang dewasa, dan apakah ia berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut individu. Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau perseorangan. Sifat individu adalah sifat yang berkaitan dengan orang perseorangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut perbedaan individu atau perbedaan individual.
Makna ”perbedaan” dan Perbedaan individual” menurut Lindgren ( 1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis. Seorang ibu yang memiliki seorang bayi, bertutur bahwa bayinya banyak menangis, banyak bergerak, dan kuat minum. Ibu lain yang juga memiliki seorang bayi, menceritakan bahwa bayinya pendiam, banyak tidur, tetapi kuat minum. Cerita kedua ibu itu telah menunjukkan bahwa kedua bayi itu memiliki cirri dan sifat yang berbeda satu sama lainnya.
Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa-siswa yang berbeda-beda satu sama lain. Siswa-siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapat seorang pun yang sama. Mungkin seklai dua orang dilihatnya hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyataannya jika diamati benar-benar antara keduanya tentu terdapat perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya, seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan semacamnya. Dari fisiknya seorang guru cepat mengenal siswa di kelasnya satu per satu. Ciri lain yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begiru pula suara mereka. Ada siswa yang lincah, banyak gerak, pendiam, dan sebagainya. Ada siswa yang nada suaranya kecil dan ada yang besar atau rendah, ada yang berbicara cepat dan ada pula yang pelan-pelan. Apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain memiliki sifat psikis yang berbeda-beda.

D.    Memahami Individu Melalui Beberapa Aspek
1.      Aspek psikologis
Aspek psikologis, pengertian psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan peristiwa mental individu (Ngalim Purwanto, 1990:90). Secara spesifik, psikologi lebih dikhususkan pada penguraian mengenai tingkah laku manusia. Tingkah laku dalam psikologi melibatkan peristiwa mental yang terjadi dalam manusia itu sendiri. Lingkungan disini mencakup semua manusia, gejala, keadaan barang/ peristiwa-peristiwa di sekitar manusia. Untuk menyelidiki psikologi seseorang, dapat digunakan berbagai metode yang sesuai dengan situasinya:
a.    Metode Introspeksi
    Intra = dalam: spectare = melihat (mawas diri).
Yang bersangkutan mengalami sesuatu dan mengamatinya apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Sebetulnya pengamatan ini adalah peninjauan kembali apa yang pernah dihayatinya.
b.    Metode Ekstrospeksi
     Extra = luar: spectare = melihat.
Ekstropeksi dapat diartikan pengamatan terhadap pihak lain. Gejala-gejala yang ada pada orang lain tersebut diinterprestasikan untuk disamakan dengan gejala-gejala yang pernah saya alami. Ekstropeksi terhadap anak akan lebih gampang daripada orang dewasa, Karena anak akan mengekspresikan apa yang bergolak dalam jiwanya secara polos, tanpa diberi variasi yang dapat membingungkan interprestasi.
c.    Metode Biografi
     Bios = hidup: graphere = tulisan.
Biografi dapat diartikan riwayat hidup. Data kadang-kadang atas dasar ingatan yang peristiwanya telah terjadi lama.
d.   Metode Pengumpulan Bahan
Yang dikumpulkan hasil karya si subyek, baik hasil karya yang kongkrit (berbagai hasil pekerjaan tangan) atau hasil karya yang abstrak (tulisan,gambaran, dan sebagainya). Untuk anak kecil hasil karya gambaran banyak memberi petunjuk bagi si penyelidik untuk menginterprestasi situasi kejiwaannya. Misalnya, anak yang suka makan, ia akan menggambarkan manusia dengan mulut yang besar.
e.    Metode eksperimen
Wilhelm Wundt memelopori mendirikan laboratorium yang lengkap dengan alat-alatnya di Universitas Leipzig (Jerman). Dalam laboratorium tersebut tersedia alat-alat yang lengkap dan modern, tetapi pelaksanaannya penyelidikan psikologi mengalami kesulitan-kesulitan. Sebab banyak proses kejiwaan yang tidak dapat diamati oleh panca indra, misalnya: proses berfikir, perasaan, kemauan, dan sebagainya.


f.     Metode test
Sebelum dilaksanakan, bahan test itu sendiri harus valid dan reliable. Test dikatakan valid kalau test itu betul-betul mengukur apa yang hendak diukurnya.
    Macam-macam test :
1)      Menurut fungsinya :
-  Tes kecepatan/speed test.
-  Tes kemampuan/power test.
-  Tes untuk membandingkan kecakapan seseorang yang sebaya/general survey test.
-  Tes untuk mengetahui kesulitan-kesulitan belajar anak/diagnostic test.
2)      Menurut organisasinya
-  Tes bentuk essay.                       - Tes bentuk obyektif.
3)      Menurut obyek yang ingin diselidiki :
-  Tes perhatian.                             - Tes inteligensi
-  Tes ingatan                                 - Tes bakat
4)      Menurut banyaknya testee
-  Tes perorangan                           - tes kelompok
5)      Menurut cara menjawab
-  Tes bahasa      : harus dijawab dengan bahasa.
-  Tes perbuatan : direaksi dengan perbuatan.
g.    Metode Angket
Angket yang diberikan secara lisan dan langsung, namanya interview. Angket yang diberikan secara tertulis namanya kuesioner. Kuesioner yang minta jawaban yang sudah tersedia namanya kuesioner tertutup, sedangkan kuesioner yang dapat dijawab dengan bebas namanya kuesioner terbuka.
h.    Metode Case Study (case = masalah)
Kita telusuri masalah-masalah yang telah terjadi pada waktu lampau dari berbagai sumber yang dapat dipercaya. Dari data yang telah terkumpul tersebut si penyelidik berusaha menganalisisnya dan dihubungkan dengan keadaan sekarang yang dialami oleh orang coba.
i.      Metode Observasi
Observasi dilakukan dengan cara penyelidikan sendiri pada situasi subyeknya agar dapat menghayati secara langsung maupun tidak langsung terhadap subyeknya melalui pengamatan. Yang penting dalam melaksanakan observasi tersebut harus dijaga agar si subyek tidak mengetahui kalau sedang diobservasi. Sebab kalu ketahuan maka subyeknya akan berbuat yang tidak wajar dan hanya memperlihatkan hal-hal yang baik saja.
j.      Metode Klinis
Biasanya dilaksanakan dengan subyek yang mempunyai kelainan-kelainan psikis. Instrument yang dipaki dapat dengan cara: interview, teknik proyeksi (TAT, AT, Rorschach test, gambar-gambar, dan sebagainya. Data yang diperoleh dengan teknik-teknik tersebut kemudian dianalisis, dan hasilnya untuk membuat pertimbangan seberapa jauh kelainan psikis yang dialami oleh si subyek.

2.      Hal-hal yang berkaitan dengan psikis/fungsi-fungsi psikis, antara lain:
a.    Persepsi
Persepsi merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organism atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan merupakan aktivitas yang integrated dari dalam individu. Dengan persepsi individu dapat menyadari, dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada disekitarnya, dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan (Davidoff, 1981). Karena dalam persepsi itu merupakan aktivitas yang integrated, maka seluruh apa yang ada dalam diri individu, seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan, dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi tersebut.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi persepsi yaitu faktor stimulus itu sendiri dan faktor lingkungan dimana persepsi itu berlangsung. Kejelasan stimulus akan banyak berpengaruh dalam persepsi. Keadaan individu yang dapat mempengaruhi hasil persepsi datang dari dua sumber, yaitu yang berhubungan dengan segi kejasmanian, dan yang berhubungan dengan segi psikologis. Sedangkan lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi stimulus juga akan berpengaruh dalam persepsi. Objek yang sama dengan situasi sosial yang berbeda, dapat menghasilkan persepsi yang berbeda.
b.    Ingatan
Mengingat ialah mereproduksi segala sesuatu yang telah disimpan dalam jiwa atas dasar akibat pencaman. Unsur-unsur mengingat:
1)   Mencamkan: melekatkan kesan sedemikian sehingga tersimpan, dan dapat direproduksi.
2)   Menyimpan:
-   Setia                : tersimpan dengan baik dan tidak berubah
-   Tahan lama      : tersimpan lama.
-   Luas                : banyak kesan yang disimpan.
-   Patuh               : kesan yang telah dicamkan mudah diproduksi.
3)   Mereproduksi :
-   Recall             : mengenal kembali untuk diingat.
-   Recognize       : mengenal kembali dihadapan bendanya.
-   Relearned        : ingat kembali karena mempelajari.
c.    Fantasi
Fantasi didefinisikan sebagai kemampuan daya jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang telah ada, dan tidak perlu sesuai dengan kenyataan. Fantasi dapat terjadi secara tidak disadari (prosesnya sangat bebas, berubah, tidak dengan pimpinan) dan disadari (proses terbentuknya dengan bantuan pimpinan pikiran dan kemampuan).
      Macam-macam fantasi:
a.    Kalau prosesnya tidak disadari, maka terjadilah fantasi sembarangan.
b.    Kalau prosesnya disadari, maka terjadilah :
-   Fantasi mencipta, yang dapat menghasilkan berbagai aspek kebudayaan, tari-tarian, lukisan dan berbagai pendapat baru.
-   Fantasi tuntunan, yaitu berdasarkan hasil fantasi mencipta atau hasil karya orang lain, misalnya membaca ceritera, melihat lukisan.
Arti fantasi bagi seseorang :
a.    Sebagai pernyataan ego defence, sehingga dapat sekedar meringankan beban yang dihadapi dalam alam nyata.
b.    Fantasi dapat memungkinkan diri untuk mengalami kehidupan pribadi orang lain.
c.    Dapat untuk mengikuti cita-cita orang lain.
d.   Perasaan
Perasaan adalah suatu keadaan kerokhanian yang dialami oleh seseorang yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut ;
a.    Perasaan lebih subyektif daripada gejala mengenal.
b.    Pada umumnya perasaan bersangkut paut dengan gejala pengenalan.
c.    Perasaan ini dialami sebagai rasa enak dan tidak enak dalam berbagai tingkat.
Secara garis besar perasaan dapat dibedakan sebagai berikut:
a.    Perasaan jasmani, misalnya rabaan, lelah, sakit, lapar.
b.    Perasaan kejiwaan:
-   Perasaan sosial, misalnya: simpati, cinta, kasihan.
-   Perasaan intelek, yaitu rasa yang bersangkut paut dengan kebenaran, missal: pasti, nyata, salah.
-   Perasaan susila, bersangkut paut dengan norma, misal: baik, buruk, menyesal.
-   Perasaan keindahan, rasa yang ada sangkut pautnya dengan pemberian nilai mengenai hal-hal yang bersifat estetis yang dapat menimbulkan perasaan positif terhadap hal-hal yang indah, dan perasaan negative terhadap hal-hal yang jelek.
-   Perasaan Ketuhanan, rasa yang ada sangkut pautnya dengan kesempurnaan.
-   Perasaan harga diri, suatu rasa berharga atau tidak berharganya diri sendiri terhadap suatu yang dihadapi.
e.    Berpikir
Berfikir ialah suatu aktivitas pribadi yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah hingga menemukan hubungan-hubungan dan menentukan sangkut pautnya. Seseorang dikatakan cerdas kalau yang bersangkutan menjalankan fungsi pikir, sehingga dapat memecahkan masalah dengan cepat dan tepat. Di dalam proses berpikir orang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lain untuk mendapatkan pemecahan dari persoalan yang dihadapi.
f.     Emosi
Emosi adalah reaksi penilaian (positif dan negatif) yang kompleks dari sistem syaraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam dirinya sendiri.
                Macam-macamnya, antara lain :
a.  Takut, adalah salah satu bentuk emosi yang mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari dengan suatu hal. Bentuk ekstrem dari takut adalah “phobia”. Rasa takut lainnya yang bias merupakan indikasi kelainan kejiwaan adalah kecemasan, yaitu rasa takut yang tak jelas sasarannya dan juga tidak jelas alasannya.
b.  Cembur, adalah bentuk khusus dari kekhawatiran yang didasari oleh kurang adanya keyakinan terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari seseorang.
c.  Gembira, adalah ekspresi dari kelegaan, yitu perasaan terbebas dari ketegangan.
d. Marah, dalam marah terjadi ketegangan yang meningkat, akibatnya untuk menyalurkan ketegangan-ketegangan tersebut sering obyek atau sasarannya adalah hal-hal yang ada disekitarnya.
3.      Aspek Fisik
Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa­-siswa yang berbeda satu sama lain. Siswa-siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapat seorang pun yang sama. Mungkin sekali dua orang dilihatnya hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyata­annya jika diamati benar-benar antara keduanya tentu terdapat per­bedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya, seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan semacamnya. Dari fisiknya seorang guru cepat mengenal siswa di kelasnya satu per satu. Ciri lain yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begitu pula suara mereka. Ada siswa yang lincah, banyak gerak, pendiam, dam sebagainya. Ada siswa yag nada suaranya kecil dan ada yang besar atau rendah, ada yang berbicara cepat dan ada pula yang pelan­-pelan. Apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain memiliki sifat psikis yang berbeda-beda.
Upaya pertama yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan individu, sebelum dilakukan pengukuran kapasitas mental yang mempengaruhi penilaian sekolah, adalah menghitung umur kronologi. Seorang anak memasuki sekolah dasar pada umur 6 tahun dan ia diperkirakan dapat mengalami kemajuan secara teratur dalam tugas­-tugas sekolahnya dilihat dalam kaitannya dengan faktor umur. Selanjutnya ada anggapan bahwa semua anak diharapkan mampu menangkap/ mengerti bahan-bahan pelajaran yang mempunyai kesamaan materi dan penyajiannya bagi semua siswa pada kelas yang sama. Ketidakmampuan yang jelas tampak pada siswa untuk menguasai bahan pelajaran umumnya dijelaskan dengan pengertian faktor-faktor seperti kemalasan atau sikap keras kepala. Penjelasan itu tidak mendasarkan, kenyataan bahwa para siswa memang berbeda dalam hal kemampuan mereka untuk menguasai satu atau lebih bahan pelajaran dan mungkin berada dalam satu tingkat perkembangan.
Perbedaan vertikal yaitu perbedaan pada segi fisik setiap individu, misal; tinggi - sedang - pendek, gemuk - sedang - kurus, sehat - tidak sehat dan lain sebagainya. Perbedaan individu tersebut dipengaruhi oleh :
a.    Faktor Keturunan (Bakat)
Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat sebaliknya bakat tidak berkembang sama, manakala lingkungan tidak memberi kesempatan untuk berkembang, dalam arti tidak ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya.
Bakat merupakan kondisi atau kualitas yang dimiliki seseorang, yang memungkinkan seseorang tersebut berkembang pada masa mendatang. Bakat bisa diartikan sebagai kemampuan bawaan yang berupa potensi (potensial ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Agar bakat dapat muncul perlu digali, ditemukan, dilatih, dan dikembangkan. Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi harus ditunjang dengan minat, latihan, pengertian, pengetahuan, pengalaman, dan dorongan. Atas dasar bakat yang dimilikinya, maka seseorang akan mampumenunjukkan kelebihan dalam bertindak dan menguasai serta memecahkan masalah dibandingkan orang lain.         
b.    Faktor Lingkungan
Perbedaan latar belakang, yang meliputi perbedaan sosio-ekonomi, sosio-cultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas. Setiap individu siswa berbeda satu dengan lainnya, hal ini pengaruhi banyak faktor yang membentuk kepribadian setiap siswa.
Perbedaan ini merupakan hal penting yang harus diketahui oleh guru karena perbedaan ini dapat digunakan oleh guru untuk menentukan metode belajar yang tepat dalam proses belajar mengajar dikelas. Guru haruslah teliti dalam mencari dan menemukan perbedaan yang ada pada siswa, terutama perbedaan-perbedaan yang menonjol. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar dan dalam memberikan pelayanan terhadap siswa agar mampu menemukan dan mengembangkan potensi yang ada dimiliki oleh siswa.

Dalam memahami fisik individu dapat pula dilihat dari ciri-ciri   fisiknya/kepribadiannya (Muhibbin Syah.2010:48), antara lain :
1.      Fisik/pribadi yang sehat
a.       Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
b.      Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
c.       Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
d.      Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
e.       Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
f.       Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak).
2.      Fisik/pribadi yang tidak sehat
a.       Mudah marah (tersinggung).
b.      Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan.
c.       Sering merasa tertekan (stress atau depresi).
d.      Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain.
e.       Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum.
f.       Kebiasaan berbohong.

4.      Aspek Individu dan sosial
Individu memiliki arti tidak terbagi, atau satu kesatuan. Maksudnya manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsure fisik dan psikis, unsure raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang berasal dari faktor keturunan maupun lingkungan. Selain itu manusia juga memiliki karateristik yang khas dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh factor bawaan (genotip) dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi secara terus-menerus (rutunitas). Jadi secar garis besar, seorang guru harus mampu memahami kepribadian yang dimiliki peserta didiknya agar dapat mengukuti pembelajaran dengan baik.
Individu sebagai makhluk sosial artinya manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi. Bersosialisasi disini berarti membutuhkan lingkungan sosial sebagai salah satu habitatnya maksudnya tiap manusia saling membutuhkan satu sama lainnya untuk bersosialisasi dan berinteraksi.  Individu pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya dengan lingkungan dan tempat tinggalnya. Individu bertindak sosial dengan cara memanfaatkan alam dan lingkungan untuk menyempurnakan serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya demi kelangsungan hidup sejenisnya. Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya.
Interaksi sosial antar individu terjadi manakala dua orang bertemu, interaksi dimulai: pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara, atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk dari interaksi sosial. Interaksi sosial terjadi dengan didasari oleh faktor-faktor, sebagai berikut:
a.    Imitasi adalah suatu prose peniruan atau meniru.
b.    Sugesti adalah suatu poroses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau peduman-pedoman tingkah laku orang lain tanpa dkritik terlebih dahulu. Yang dimaksud sugesti di sini adalah pengaruh pysic, baik yang datang dari dirinya sendiri maupuhn dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik. Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya, dengan interaksi sosial adalaha hampir sama. Bedanya ialah bahwa imitasi orang yang satu mengikuti salah satu dirinya, sedangkan pada sugesti seeorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain di luarnya.
c.    Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identi (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah.
d.   Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilain perasaan seperti juga pada proses identifikasi.
5.      Aspek Pendidikan
a.       Dididik, Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Seorang individu memperoleh pendidikan melalui belajar diamana belajar (Barlow.1985:75) adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilakn perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap-sikap. Contoh Pendidikan bahaya korupsi, dalam hal ini individu diberi pendidikan mengenai korupsi, faktor yang membuat seseorang melakukan korupsi dan dampak dari korupsi. Dengan harap melalui pendidikan ini individu memiliki pendangan yang luas mengenai korupsi.
b.      Dibentuk, Salah satu tujuan pendidikan adalah menyiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki kompetensi sehingga mampu bersaing di dunia nyata. Peran pendidikan sangat penting dalam membentuk karakter individu, hal ini seharusnya disadari dengan baik oleh para pemegang kepentingan pendidikan di negeri ini. Pendidikan seharusnya tidak hanya menitiberatkan pada penguasaan aspek kognitif saja, namun juga harus menitikberatkan pada aspek sikap dan perilaku individu (afektif). Yang diharapkan melalui proses belajar 18 nilai-nilai pendidikan dapat ditanamkan dalam kepribadian individu itu sendiri seperti yakni Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa ingin tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/ Komuniktif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung-jawab Sehingga dapat merealisasikannya dengan baik. Pembentukan karakter pada setiap individu banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor internal maupun eksternal. Setiap individu dengan membawa sifat-sifat tertentu yang diturunkan secara genetis (faktor internal). Selain faktor internal pembentukan karakter juga dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa pengaruh lingkungan dan pembiasaan. Faktor eksternal memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk kerakter setiap individu. Apabila individu tersebut berada pada lingkungan yang baik dan belajar tentang sesuatu yang baik makan akan baik pula individu tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila individu tersebut berada pada lingkungan yang tidak baik dan belajar tentang sesuatu yang kurang baik maka akan kurang baik pula individu tersebut. Besarnya pengaruh lingkungan (factor eksternal) dalam membentuk karakter pribadi seorang individu ini memicu setiap orang untuk belajar menjadi individu yang lebih baik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menempatkan diri pada lingkungan yang mendukung dan membuat seseorang menjadi individu yang mampu bersikap dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Lingkungan yang baik tersebut diharapkan dapat merubah karakter suatu individu menjadi lebih baik dengan cara menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga diharapkan kebiasaan tersebut akan terus berlanjut dan dapat diterpakn dalam kehidupan. Sehingga yang diharapkan setelah individu menjalankan proses belajar, individu dapat menjadi lebih baik dengan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Contoh dari pendidikan mengenai korupsi yang diberikan kepada individu dalam hal ini peran guru penting untuk menanamkan sikap-sikap atau kebiasaan yang baik untuk menjauhi korupsi, seperti toleransi, bertingkah jujur, dan tenggang rasa. Sehingga melalui belajar nilai-nilai positif dapat ditanamkan dalam pribadi individu.
Adapun beberapa poin penting dalam pembentukan karakter individu, sebagai berikut:
a.       Mengubah orientasi pembelajaran dengan memberikan perhatian lebih pada ranah efektif
b.      Guru menjadi contoh model dalam berperilaku di kelas
c.       Membiasakan siswa menghargai perbedaan
d.      Membuat kelompok-kelompok belajar heterogen

DAFTAR PUSTAKA

Barlow, Daniel Lenox. 1985. Educational Psychology: The Teaching Learning  
             Process. Chicago: The Moody Bible Institute.

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar